Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Indonesia Bakal Alirkan Listrik ke Malaysia

1823223780x390

Rifan Financindo Berjangka – PT Bukit Asam Tbk kini sedang menunggu proses perizinan baik dari pemerintah RI maupun pemerintah Malaysia guna membangun jaringan transmisi listrik antar kedua negara serumpun tersebut.

Bila izin tersebut diterbitkan, maka PTBA akan memasok listrik dari Riau menuju Semenanjung Malaka. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang akan dibangun merupakan kerjasama antara PTBA, PT PLN (Persero), dan perusahaan Malaysia Tenaga Nasional Berhard (TNB).

Jaringan listrik dari Riau itu akan tersambung ke jaringan listrik ASEAN Raya seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam, dan Laos.

Direktur Utama PTBA Milawarma mengatakan, saat ini proyek tersebut dalam tahap feasibility studies (FS).

Milawarma menuturkan, setelah hasil FS disetujui oleh pemerintah, maka pembangunan PLTU tersebut segera bisa dilakukan.

“Paling tidak, kalau FS disetujui harus (memperoleh) persetujuan pemerintah (untuk) menyambungkan transmisi. Setelah disetujui enam bulan dan setahun untuk pendanaan, berarti 2017 bisa dimulai (pembangunan). Sepanjang tahun 2015 disetujui, 2016 pendanaan, 2017 konstruksi,” jelas Milawarma dalam public expose Investor Summit and Capital Market Expo 2015 di Bursa Efek Indonesia, Senin (9/11/2015).

Milawarma mengharapkan, setelah mendapat izin dari kedua pemerintah di tahun 2015, maka pihaknya akan mencari pendanaan pada tahun berikutnya. Sehingga, pembangunan konstruksi transmisi dapat dilakukan pada tahun 2017 mendatang.

Adapun kebutuhan dana untuk proyek tersebut adalah 1,8 miliar hingga 2,2 miliar dollar AS. Sementara itu, kapasitas transmisi pembangkit listrik tersebut mencapai 800 hingga 1.200 MW.

Terkait dengan harga jual listrik yang dialirkan, Milawarma belum bersedia menyebut angka pasti. Pasalnya, hal ini terkait dengan pembagian porsi saham antara PTBA dengan Tenaga Nasional Berhad.

Selain itu, Milawarma juga menuturkan, kerja sama tersebut juga mempertimbangkan perimbangan beban puncak kedua negera yang berbeda. Beban puncak di Indonesia terjadi pada malam hari, sementara di Malaysia terjadi pada siang hari. Sehingga, transmisi ini dapat saling menopang.