Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

HEBOH! WANITA HAMPIR BUGIL DI JAKARTA | RIFAN FINANCINDO

rifan financindo

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – SEMARANG, Masyarakat dihebohkan dengan kemunculan video perempuan yang berbelanja di sebuah apotek dalam keadaan nyaris bugil. Diduga peristiwa ini terekam di daerah Mangga Dua Dalam, Jakarta. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini?

“Kita masih melakukan pencarian. Kita penasaran motif dari perempuan tersebut,” kata Kanit Reskrim Polsek Metro Tamansari Kompol Bintoro, seperti dikutip dari detiknews.

Fenomena seseorang keluar rumah atau berada di area publik dalam keadaan tanpa busana memang bisa didasari oleh banyak sebab, semisal stres atau berada dalam pengaruh obat-obatan.

Kemungkinan lainnya, orang tersebut mengalami kecenderungan eksibisionisme.

Dijelaskan dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, eksibisionisme tergolong dalam gangguan kejiwaan.

Seorang eksibisionis (pelaku eksibisionisme) mendapatkan kepuasan seksual dengan mempertontonkan alat kelaminnya kepada orang yang tidak dikenal atau masyarakat luas. Biasanya ini juga didorong fantasi seksual yang dimilikinya.

“Jadi sering kita lihat orang-orang eksibisionis itu tiba-tiba membuka celananya di tempat umum atau di angkot. Dulu saya pernah menyaksikan sendiri, sampe saksinya yang anak perempuan ketakutan,” tutur dr Andri, Senin (5/6/2017).

Dalam video lain, perempuan nyaris bugil berjalan-jalan di siang bolong
Dalam video lain, perempuan nyaris bugil berjalan-jalan di siang bolong (Foto: Screenshot dari video yang beredar)

Nyatanya ekspresi ketakutan atau terkejut yang diperlihatkan orang lain inilah yang justru diharapkan oleh si eksibisionis tadi.

“Sasarannya bisa ke anak-anak pra pubertas, bisa juga kepada orang yang sudah cukup dewasa. Tapi ada juga yang dua-duanya,” tambahnya.

Namun untuk kasus wanita yang viral di Jakarta tersebut, dr Andri mengaku tak bisa memastikan apakah yang bersangkutan mengidap eksibisionisme. Pertama, pelaku eksibisionisme lebih banyak laki-laki ketimbang perempuan.

Kedua, dari aksi yang dilakukan, tingkah laku wanita ini tidak sesuai dengan definisi dari eksibisionis itu sendiri. Menurut dr Andri, beberapa ahli mengatakan ada eksibisionis yang tidak hanya mempertontonkan alat kelamin, tapi juga bagian tubuh yang dianggap tabu seperti payudara atau pantat.

Akan tetapi merujuk pada diagnosis gangguan jiwa berdasarkan kitab DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) V, seseorang baru bisa disebut eksibisionis jika hanya memperlihatkan alat kelamin.

“Sedangkan wanita ini kan tidak. Kalau eksibisionis kan tentunya juga tidak sesantai itu. Biasanya nggak keluar dari mobil ataupun tiba-tiba keluar rumah dalam keadaan telanjang. Biasanya pakai baju lengkap kemudian di tengah jalan dia baru memperlihatkan kelaminnya ke orang-orang tertentu,” paparnya.

Eksibisionisme merupakan sebuah bentuk gangguan kejiwaan. Mereka yang melakukannya tak lagi malu bila organ intim yang seharusnya tertutup terlihat orang asing.

Pernahkah Anda penasaran mengapa eksibisionis (pelaku eksibisionis) berani melakukan hal semacam ini? dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik, menjelaskan eksibisionisme umumnya dialami oleh mereka yang merasa inferior di depan lawan jenisnya.

Hal ini juga dijelaskan dalam beberapa literatur tentang eksibisionisme. “Akhirnya dia merasa seperti berkuasa, ketika ia mampu menakut-nakuti atau mendapatkan reaksi kaget dari orang lain ketika dia melakukan eksibisionisme tersebut,” urainya.

Seperti dikutip dari www.minddisorders.com dan disarikan dari berbagai sumber, ada beberapa faktor yang diduga memicu seseorang hingga memiliki kecenderungan eksibisionisme, di antaranya:

1. Biologis
Secara biologis, ada pengaruh hormon testosterone yang kemudian mendorong si pelaku untuk melakukan perilaku seksual yang menyimpang.

2. Kekerasan di masa kecil
Sejumlah studi menyebut kekerasan emosional dan seksual yang dialami saat masih kanak-kanak ataupun kondisi broken home yang dihadapi seseorang di masa kecil berdampak signifikan pada munculnya kecenderungan ini.
3. Riwayat ADHD
Selain riwayat kekerasan di masa kecil, riwayat ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder) juga dianggap berpengaruh terhadap munculnya gangguan mental ini. Alasannya belum diketahui, namun peneliti dari Harvard University menemukan pasien dengan gangguan paraphilia (ketertarikan seksual pada sesuatu yang tidak lazim seperti eksibisionisme) berpeluang lebih besar untuk mengalami ADHD di masa kecil.

4. Trauma kepala
Kebetulan ada beberapa kasus yang tercatat dalam literatur di mana para pria berubah menjadi eksibisionis pasca trauma kepala, tanpa disertai riwayat kekerasan di masa kecil.

Lantas mengapa kebanyakan eksibisionis adalah laki-laki? “Saya belum membaca lebih jauh lagi tentang ini tetapi memang data statistik dan prevalensinya lebih banyak pada laki-laki,” tutup dr Andri.

Nyatanya sejumlah pakar menyebut definisi eksibisionisme di masyarakat cenderung bias gender. Padahal wanita yang berani membuka bajunya di depan cermin seolah-olah mendorong seseorang untuk melihat tubuhnya juga bisa digolongkan sebagai eksibisionis. Begitu pula dengan wanita yang mengenakan pakaian minim atau gaun dengan belahan rendah, hanya saja kondisi semacam ini sudah lebih bisa diterima dalam tataran sosial.

Bahkan sebuah literatur menyebut perbedaan nyata dari eksibisionisme pada dasarnya adalah ‘wanita cenderung memperlihatkan segalanya tetapi tidak dengan kelaminnya, sedangkan pria buka-bukaan begitu saja’.