Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Harga Minyak Tergelincir Setelah OPEC Batalkan Pertemuan

minyak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG – Harga minyak turun tajam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), dalam sesi yang bergejolak setelah para produsen OPEC membatalkan pertemuan ketika para pemain utama tidak dapat mencapai kesepakatan untuk meningkatkan pasokan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September tergelincir US$2,63 per barel atau 3,4 persen, menjadi ditutup pada US$74,53 per barel, setelah mencapai puncak sesi di US$77,84, merupakan level tertinggi sejak Oktober 2018.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$1,79 atau 2,4 persen, menjadi menetap pada US$73,37 per barel, setelah menyentuh posisi puncak US$76,98, merupakan level tertinggi sejak November 2014.

Pada Senin (5/7/2021), para menteri dari OPEC+, yang mencakup Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen lainnya, meninggalkan pembicaraan setelah negosiasi gagal untuk menutup perpecahan antara Arab Saudi, produsen OPEC terbesar, dan Uni Emirat Arab.

“Di masa lalu, perbedaan pendapat di dalam OPEC sering memicu penurunan harga besar-besaran, namun pasar menafsirkan kegagalan saat ini sebagai arti bahwa perjanjian lama, yang menurutnya produksi oleh negara-negara OPEC dan sekutu mereka dibiarkan tidak berubah mulai Agustus hingga April 2022 setelah kenaikan pada Juli, masih berlaku,” kata Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, dalam sebuah catatan Selasa (6/7/2021).

Dia menambahkan bahwa dalam jangka menengah, kegagalan OPEC+ lebih cenderung merugikan harga minyak daripada kebaikan.

Awalnya, minyak menguat di tengah berita kegagalan pembicaraan, tetapi harga mundur karena para pedagang fokus pada kemungkinan bahwa perselisihan akan menyebabkan beberapa produsen nasional membuka keran dan mulai mengekspor lebih banyak barel.

BacaJuga :

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu

RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan

PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor

RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi

RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB

PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan

RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras

PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya

PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun

PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop

PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK

RFB | RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningka

“Pasar khawatir bahwa UEA akan masuk dan secara sepihak menambah barel dan negara lain di OPEC akan mengikuti,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Uni Emirat Arab mengatakan akan mengikuti peningkatan produksi tetapi menolak proposal terpisah untuk memperpanjang pembatasan hingga akhir 2022 dari batas waktu yang ada pada April.

Beberapa sumber OPEC+ mengatakan mereka masih yakin kelompok itu akan melanjutkan diskusi bulan ini dan setuju untuk memompa lebih banyak mulai Agustus, meskipun yang lain mengatakan pembatasan saat ini mungkin tetap berlaku.

Gedung Putih mengatakan pada Selasa (6/7/2021) bahwa pihaknya sedang memantau pembicaraan OPEC+ dan “memberikan dorongan” setelah percakapan dengan para pejabat di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Tidak ada tanggal untuk pembicaraan lebih lanjut yang diumumkan.

Analis memperkirakan produsen-produsen AS mulai menambah pasokan karena harga yang lebih tinggi setelah berbulan-bulan aktivitas yang lesu. Produksi AS saat ini sekitar 11 juta barel per hari, sehingga produksi memiliki ruang untuk meningkat sebelum mendekati rekor AS yang mencapai hampir 13 juta barel per hari pada 2019.

Goldman Sachs mengatakan gagalnya pembicaraan telah menimbulkan ketidakpastian pada jalur produksi OPEC. Bank mengatakan masih memperkirakan Brent akan mencapai 80 dolar AS per barel awal tahun depan.

Pada Senin (5/7/2021), Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar mengatakan negaranya tidak ingin melihat harga minyak melonjak di atas level saat ini dan dia berharap bahwa dalam 10 hari akan ditetapkan tanggal pertemuan OPEC+ yang baru.

Sumber : Bisnis

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG