Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Harga Minyak Mentah Naik Terdorong Prospek Cuaca Dingin

1039074ThinkstockPhotos-517042851780x390

Rifan Financindo Berjangka – Harga minyak mentah melonjak pada penutupan perdagangan Rabu dinihari (30/12) dengan adanya prospek cuaca dingin di minggu mendatang, tapi melambatnya permintaan global dan pasokan berlimpah dari anggota OPEC terus membawa pasar energi cenderung bearish.

Harga minyak mentah berjangka WTI ditutup naik $ 1,06, atau 2,88 persen pada 37,87 dollar per barel. Sedangkan harga minyak Brent naik $ 1,27, atau 3,5 persen, pada 37,91 dollar per barel, kurang dari $ 2 di atas level terendah 11-tahun dari 35,98 dollar per barel yang dicapai minggu lalu.

Kedua patokan harga minyak mentah ini umumnya telah berada dalam posisi uptrend selama seminggu terakhir setelah ramalan cuaca menunjukkan di Amerika Serikat mengalami suhu musim dingin menyusul musim gugur.

Ekspektasi penarikan persediaan minyak mentah AS pekan lalu menyebabkan reli. Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa stok turun 2,5 juta barel pekan lalu menjelang laporan persediaan dari American Petroleum Institute pada Selasa dan Administrasi Informasi Energi yang dikelola pemerintah, Rabu.

Minyak pemanas, juga dikenal sebagai Ultra-Low Sulfur Diesel (ULSD), naik hampir 4 persen menjadi $ 1,13 per galon, memimpin energi yang lebih tinggi dan meningkatnya gas alam, bahan bakar pemanas lain.

Tetapi pada tingkat global, pedagang dan analis mengatakan kekenyangan minyak global akan bertahan hingga 2016.

?Fundamental tetap sangat bearish,? kata analis ING Bank Hamza Khan, mencatat bahwa rebound Selasa terjadi di tengah volume perdagangan yang rendah.

Brent dan WTI tetap lebih dari dua pertiga di bawah harga pertengahan 2014 mereka, tertekan oleh berlimpahnya pasokan minyak serpih AS dan keputusan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak untuk memproduksi mendekati volume rekor minyak mentah untuk menjaga pangsa pasar mereka.

Pada hari Senin, pemimpin produsen OPEC, Arab Saudi mengumumkan rencana untuk pemotongan pengeluaran dan metode peningkatan pendapatan non-minyak untuk mengelola rekor defisit anggaran belanja nasionalnya.

Jaap Meijer, direktur dan kepala penelitian di Arqaam Capital di Dubai, mengatakan anggaran Saudi menunjukkan Riyadh telah mengambil langkah-langkah untuk menghadapi jeda berkepanjangan harga minyak.

Kekenyangan minyak global diperkirakan akan memburuk pada tahun 2016 dengan Iran telah berjanji untuk meningkatkan ekspor jika sanksi Barat dicabut.

Arab Saudi dan sekutu Teluk nya UEA dan Kuwait telah mengatakan mereka mengandalkan pertumbuhan permintaan global untuk membantu menyeimbangkan pasar selama 2016.

Analis minyak JBC Energy mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan produk minyak di Eropa menjadi negatif pada bulan Oktober untuk pertama kalinya dalam 10 bulan dan bahwa pertumbuhan permintaan diesel dan bensin di Tiongkok juga melambat.

Dalam jangka pendek, cuaca dingin memasuki Eropa dan Amerika Utara dapat memberikan dorongan jangka menengah untuk kenaikan harga.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi tertekan merespon penguranga penurunan negatifnya persediaan minyak mentah berdasarkan hasil konsensus persediaan minyak mentah yang akan dirilis EIA nanti malam. Harga minyak akan bergerak dalam kisaran Support $37,50-$37,00 per barel, dan kisaran Resistance $38,50-$39,00 per barel.