Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Harga Bensin Premium dan Solar Bakal Turun Lagi Awal Februari

pom

Rifan FInanicndo Berjangka Semarang-Harga minyak dunia masih dalam tren menurun. Oleh karena itu, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka kemungkinan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diturunkan kembali.
Mulai 1 Januari 2015 kemarin pemerintah sudah mengumumkan harga Premium turun dari Rp 8.500/liter menjadi Rp 7.600/liter. Sementara harga Solar turun dari Rp 7.500/liter menjadi Rp 7.250/liter.

Tunggu Situasi Akhir Bulan Januari

//images.detik.com/content/2015/01/08/1034/070751_spbubandung.jpg

“Akan diturunkan, kita akan turunkan lagi harga BBM. Tapi tunggu akhir bulan. Besar kemungkinan (diturunkan lagi),” ungkap Sofyan Djalil, Menko Perekonomian, di komplek Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/1/2015).

Namun, Sofyan belum bisa menyebutkan berapa harga BBM nantinya. Pemerintah masih akan menghitung berdasarkan harga minyak, kurs, dan sejumlah faktor lain.

“Kita nggak bisa prediksi sekarang, karena masih jauh. Ini masih sampai 24 Januari,” katanya.

Hal yang senada juga dikatakan oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Harga yang berlaku sekarang masih perhitungan awal Januari 2015. Sehingga bila harga minyak dunia turun, maka harga BBM juga akan mengikuti.

“Kemungkinan bisa turun. Kita kan pakai hitungan bulan lalu, yang sekarang ada muncul di ritel,” sebut Bambang di tempat terpisah.

Harga Minyak Turun di Bawah US$ 50/Barel

//images.detik.com/content/2015/01/08/1034/070904_anjunganreuters.jpg

Penurunan harga minyak terus terjadi, dua jenis minyak acuan internasional harganya melaju turun. Untuk minyak light sweet produksi AS sudah beberapa hari berada di bawah US$ 50/barel. Sementara Brent sempat turun di bawah US$ 50/barel.

Kemarin, harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 49,92/barel atau yang terendah sejak Mei 2009. Setelah itu kembali di atas US$ 50/barel.

Untuk minyak jenis light sweet harganya US$ 47,2/barel atau yang terendah sejak April 2009. Pasar minyak masih lesu, dan tahun ini turun hampir 10% pada pekan ini.

“Harga minyak masih berisiko karena trennya turun,” demikian analisa bank ANZ dilansir dari Reuters, Rabu (7/1/2015).

Harga minyak diperkirakan terus turun karena pertumbuhan ekonomi China yang melambat. Bahkan seorang mantan eksekutif di perusahaan minyak, yaitu Nobuyuki Nakahara mengaku tak kaget bila harga minyak terus turun hingga uS$ 20/barel.

Penurunan harga minyak internasional ini mempengaruhi harga bensin, termasuk di Indonesia. Pemerintah merencanakan untuk menurunkan harga bensin premium dan solar.

Bensin Premium akan Dihilangkan Dalam 6 Bulan

//images.detik.com/content/2015/01/08/1034/071004_premium3.jpg

Pemerintah menargetkan paling lambat dua tahun sudah tidak ada lagi kilang Pertamina produksi bensin RON 88. Namun, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi meyakini, penghapusan premium paling lama 6 bulan.

“Dua tahun itu kan maksimal atau paling lama, tapi kita akan dorong dalam 6 bulan sudah tamat riwat premium RON 88 di Indonesia,” kata Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Basri, ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (7/1/2015).

Faisal mengatakan, untuk memproduksi pertamax lebih banyak, saat ini ada dua cara. Pertama dengan mencampur pertamax off Pertamina dengan MTBE (methyl tertiary butyl ether, C5H11O). MTBE ini bisa setara RON 118.

“Saat ini produksi pertamina itu pertamax off yang kadar aromatiknya tinggi. Untuk menjadikannya pertamax 92 aromatiknya diturunkan agar nantinya jadi pertamax on. Untuk jadi pertamax on, itu pertamax off diblending dengan MTBE,” ucap Faisal.

Menurut Faisal, bila Pertamina memproduksi pertamax off, maka hasil yang didapatkan lebih sedikit dibandingkan memproduksi premium RON 88.

“Jadi misalnya, minyak diolah untuk memproduksi premium, dapat premium 6. Tapi kalau premiumnya dihapus dan gantinya pertamax, dapatnya hanya 4, jadi lebih sedikit hasilnya,” kata Faisal.

Untuk mendapatkan produksi pertamax 92 tambahan, diperlukan nafta. Produksi nafta dalam negeri cukup banyak bahkan diekspor ke luar negeri.

“Maka sebentar lagi ekspor nafta dihentikan, kita manfaatkan produksi nafta dalam negeri. Nah, produksi nafta itu dimasukkan ke kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), sehingga produksi pertamax RON 92 tambah banyak lagi. Makanya TPPI juga jadi perhatian kita juga,” tutupnya.