Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

GAJAH MADA DENGAN GAJ AHMADA, YANG BENAR YANG MANA YA?|RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – SEMARANG,  Novelis sastra Langit Kresna Hariadi menyatakan sebutan Gaj Ahmada dan agama Islam yang disebut sebagai nama asli dan agama dari Mahapatih Majapahit Gajah Mada adalah sesuatu yang dipaksakan. Dia menyebut itu hanya otak-otik orang saja.

“Gaj Ahmada itu orang otak atik saja, makanya viral. Jadi itu hanya dipaksa-paksakan, dihubung-hubungkan. Jadi kebetulan saya mengira sih itu latar belakangnya ideologi agama, demikian juga orang yang memaksakan,” kata Langit saat dihubungi detikcom, Minggu (18/6/2017) malam.

Penulis Novel ‘Gajah Mada’ itu mengatakan, sebutan Gaj Ahmada tidak ada di negara Kertagama dan prasasti yang menceritakan Sumpah Palapa. Sedangkan rumor yang menyebutkan sang patih tersebut beragama Islam, Langit menegaskan hal itu adalah sifat ilmiah namun harus ada sebuah pendekatan yang benar.

“Tidak ada yang disebut, tidak ada Gajah Mada ditulis dengan Gaj Ahmada, itu tidak benar. Siapapun boleh menafsirkan agamanya Islam, jadi gini kalau dihitung prosentase ya kalau tahun 1000-an lebih sedikit pernah ditemukan nisan kuburan muslim di Gresik itu usianya sama seperti usia Kediri,” ujar Langit.

“Itu membuktikan bahwa Islam sudah ada di Pulau Jawa, di daerah pesisiran. Tapi apakah Gajah Mada beragama Islam prosentasenya cukup masuk akal atau tidak, kalau kita runut Majapahit adalah kesultanan Islam harus kita temukan banyak bukti, misalnya negara Kertagama menunjukkan masjid sama sekali tidak ada,” imbuhnya.
Langit juga menjelaskan satu-satunya informasi tentang agama yaitu aturan Tripaksa. Aturan Tripaksa adalah toleransi agama yang terjadi antara dua agama besar yakni Hindu dan Budha pada zaman lampau.

“Maksudnya kalau sekarang seperti toleransi agama, artinya apa agar tidak terjadi benturan antara dua agama besar saat itu. Islam itu ada, kemudian kalau Gajah Mada disebut Islam mungkin iya, tapi prosentasenya hitung saja,” jelas langit.

Sementara untuk penjelasan koin pada jaman Majapahit bertuliskan kalimat syahadat, Langit mengungkapkan bahwa hal tersebut terjadi karena sistem pembayaran pada zaman dahulu adalah barter. Tetap saja, Majapahit tidak bisa dikatakan sebagai kesultanan.

“Nggak masalah sistem pembayaran zaman itu bermacam-macam, ada barter ada duit dari China, ada koin yang bentuknya cembung seperti kontak lens itu dari China, itu ada uang yang tulisan syahadat dari Arab, itu sama sekali atau tidak bisa dijadikan bukti bahwa Majapahit adalah kesultanan,” tuturnya.

“Jadi keberadaan koin itu dari Arab, karena saat itu banyak sekali orang yang datang, yang dari China membawa Yuan misalnya, itu tidak membuktikan bahwa Majapahit uangnya menggunakan uang Arab,” sambung langit.
Namun Langit bukan berarti tidak membenarkan soal kontroversi mengenai nama Mahapatih Gajah Mada adalah Gaj Ahmada dan beragama Islam. Hanya saja sesuai fakta sejarah, dia menyebut kemungkinannya sangat kecil.

“Saya tidak mengatakan tidak benar, ada kemungkinannya kecil, ada prosentasenya kecil kalau dirunutkan fakta yang ada, itu menjadi pendapat pribadi saya,” sebut Langit.
Koin peninggalan Majapahit menjadi salah satu koleksi Museum Nasional, Jakarta. Ada 4 koin yang dipajang dengan label ‘Majapahit’ di Gedung A Museum itu. Di bawah bingkai keempat koin itu tertulis ‘Uang Indonesia Masa Kerajaan Islam’.

Koin itu disebut sebagai ‘uang gobog’. Bagian tengahnya bolong, pada bagian muka terdapat gambar Semar, Kresna, gajah, dan ular. Sedangkan di bagian lainnya tertulis ‘Laa ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah’ dengan aksara Arab. Pada bagian tengahnya terdapat gambar mirip lambang Majapahit, Surya Majapahit.

Beberapa hari terakhir netizen di media sosial ramai memperbincangkan nama asli Patih Kerajaan Majapahit yang selama ini di kenal dengan Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada.

Selain itu, terjadi pula perdebatan di media sosial bahwa Kerajaan Majapahit adalah kesultanan dan Gaj Ahmada beragama Islam.

Dari informasi yang viral di media sosial disebut bahwa kesultanan Majapahit berasal dari penelitian yang kemudian dijadikan buku dengan judul “Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi”. Buku tersebut diterbitkan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta.

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta yang membawahi LHKP, Ashad Kusuma Djaya menegaskan, tidak ada campur tangan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta dalam penulisan buku Kesultanan Majapahit.

“LHKP hanya memfasilitasi kajian, kemudian yang ikut diskusi dan kajian itu patungan untuk menerbitkan buku. Tidak ada dana dari Muhamamdiyah,” ujar Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya .

Diceritakannya, kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta adalah berdiskusi dan melakukan kajian bersama dengan berbagai komunitas.

“LHKP isinya adalah komunitas anak muda yang senang dengan isu-isu alternatif,” ucapnya.

Ashad mengaku mengenal baik Herman Sinung Janutama, penulis buku “Kesultanan Majapahit” karena sama-sama pemerhati budaya Jawa. Herman Sinung Janutama memiliki komunitas dan menjadi salah satu yang diundang dalam kegiatan diskusi LHKP.

Sebab, lanjutnya, metode penelitian yang dilakukan oleh Herman Sinung Janutama menarik untuk didiskusikan dan dikaji.

“Itu bukan kegiatan tunggal, artinya kita ada juga diskusi dan kajian dengan lainnya. Kita juga ada kajian dengan Sifu Yonatan, Biksu Budha,” jelasnya.

Hanya saja, karena lembaga diskusi dan kajian tersebut tidak mempunyai legalitas, maka buku tulisan Herman Sinung Janutama diterbitkan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2010 lalu sebanyak 1.000 eksemplar dan hanya untuk kalangan sendiri.

“Saya juga kaget, sudah buku Mas Herman itu terbit tahub 2010 lalu, sekarang viralnya,” tuturnya.

Dikatakannya, kutipan yang menjadi viral media sosial banyak tidak sesuai dengan di buku tulisan Herman Sinung Janutama. Seperti nama Gaj Ahmada itu tidak ada di buku yang ditulis Herman Sinung Janutama.

“Adanya Gajah Ahmada, misalnya dalam bahasa Sansekerta itu kan Nusantara itu sesungguhnya Nusa Antara, Gajah Mada dalam terminologi yang ditemukan Mas Herman itu Gajah Ahmada, kalau Gaj Ahmada itu menyalahi susatra jawa,” tandasnya.

Ashad mengaku tidak mengenal Arif Barata yang menjadi rujukan soal Gaj Ahmada sehingga viral di media sosial.

“Arif Barata yang menjadi sumber banyak viral itu saya tidak kenal, selama kegiatan kajian-kajian itu juga tidak nampak. Ada nama Arif Barata, tetapi lain. Saya kenal dan saat ini masih menjadi staf saya,” pungkasnya.