Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Dolar Perkasa Tapi Ekonomi AS Hanya Tumbuh 0,2%, Ini Penjelasannya

063655_as

Rifan Financindo Berjangka – Perekonomian Amerika Serikat (AS) stagnan pada 3 bulan pertama di 2015 (kuartal I-2015), pertumbuhannya hanya 0,2%. Angka ini di bawah ekspektasi para analis ekonomi yang memperkirakan bisa sekitar 1%.

Dilansir dari BBC, Kamis (30/4/2015), musim dingin membuat konsumsi masyarakat menurun. Sementara perusahaan energi tengah tertimpa jatuhnya harga minyak, sehingga harus memangkas investasinya.

Belum lagi penguatan dolar yang membuat ekspor turun 7,2%. Karena dengan penguatan dolar, barang dari AS menjadi mahal sehingga tidak bersaing.

Namun Departemen Perdagangan AS menyatakan, ada sinyal aktivitas ekonomi meningkat di kuartal II-2015. Pertumbuhan ekonomi AS ini lebih rendah dari kuartal IV-2014 yang masih tumbu 2,2%.

Dolar terus menguat karena ekspektasi akan dinaikkannya suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, yaitu The Fed. Bahkan dolar sempat menyentuh nilai tertingginya dalam 10 tahun terakhir.

Kondisi penguatan dolar membuat ekspor turun. Namun impor naik akibat dolar menguat. Impor AS tumbuh positif 1,8%.

Dalam kata lain, penguatan dolar membuat barang impor jadi murah dan harga di dalam negeri menjadi rendah. Meski begitu, konsumsi tertahan akibat cuaca dingin.

Pendorong ekonomi AS yang positif adalah dari sisi investasi yang naik 2%. Pengeluaran pemerintah malah turun 0,8% karena pemangkasan anggaran yang dilakukan.

Jadi, konsumsi swasta dan investasi jadi penggerak ekonomi AS selama kuartal I-2015.

Cuaca dingin, berarti aktivitas konstruksi melambat. Sementara penurunan harga minyak membuat produksi melambar, dan ada pengurangan nilai investasi. Jadi, bisnis di sektor pertambangan serta eksplorasi migas turun 48,7% sepanjang kuartal I-2015.

Perusahaan penyedia jasa pengeboran migas asal AS, Schlumberger memangkas anggaran investasinya sebesar US$ 500 juta, menjadi US$ 2,5 miliar. Demikian juga dengan Halliburton, yang memangkas investasinya 15% menjadi 2,8 miliar.

Angka pertumbuhan ini, menurut Analis Ekonomi Paul Ashworth, membuat banyak pihak khawatir pemulihan ekonomi masih jauh.

“Selama 12 bulan terakhir, ekonomi tumbuh 3%, dan kami berharap akan terus tumbuh di kisaran itu juga pada tahun ini,” ujar Ashworth.