Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Diluar AS, Pegang Aset Emas

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - SEMARANG

Seringkali kita ingat bahwa menurunnya status qua hanya akan berlangsung dalam jangka pendek saja, berbagai aksi masih perlu ditengah kemarahan yang terjadi. Begitu juga dengan kondisi ekonomi global saat ini, berbagai kebijakan moneter yang dijalankan oleh berbagai bank-bank sentral diseluruh dunia pada dasarnya untuk menjaga pasar dan perekonomian sebenarnya juga tidak tumbuh. Oleh sebab itu, hal yang paling aman saat ini bagi para investor adalah memegang asset emas fisik dalam brankas-brankas besi, khususnya bagi para investor di luar AS.

Kebijakan-kebijakan moneter yang dijalankan oleh The Federal Reserve dianggap merangsang pihak-pihak lain untuk membuat lebih banyak uang mereka. AS memang menjadi awal dari bencana keuangan saat ini, namun mereka enggan membersihkan sisa-sisa kotoran masalahnya hingga. Memegang asset emas fisik dalam kotak-kotak penyimpanan di luar AS, di negara-negara seperti Swiss, Singapura, Hong Kong, Australia, Kanada dan sejenisnya bisa menjadi hal yang penting ditengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Pemilahan asset memang diperlukan dan bukan hanya itu saja, pemilahan lokasi asset juga perlu pula.

Lima tahun berselang setelah krisis ekonomi menghantam AS dan mendorong harga emas meroket tajam, kini perekonomian membaik namun bukan rumah tangga pada umumnya, hanya pada orang-orang yang mampu secara ekonomi dimana asset-aset mereka kemudian meroket pula nilainya. Hal ini memperlebar jurang kesejahteraan yang lebih dalam. Banyaknya uang beredar di AS membuat sejumlah masalah dan setidaknya dalam tiga tahun kedepan bisa terjadi ledakan masalah kembali.

Rakyat AS menyadari siapa yang menjadi sumber masalah dalam perekonomian mereka. Saat terjadi kebangkrutan, kekuasaan Bank Sentral akan dibatasi. Ledakan pasar di bursa NASDAQ tahun 1999 merujuk pada ketidak mampuan bank sentral AS. Ledakan industry properti tahun 2001 dan 2007 juga dianggap sebagai ketidak becusan The Fed, kini orang-orang juga akan menunjuk pihak yang bertanggung jawab dalam masalah ledakan kredit dan asset, The Federal Reserve.

Bank Sentral memang berupaya menjaga pasar tetap bersih dan perekonomian berkembang. Kebijakan-kebijakan moneter dijalankan oleh bank-bank sentral diseluruh dunia pun juga demikian. Tak ayal jurang kesejahteraan juga melebar. Upaya pencetakan uang yang lebih banyak lagi dianggap mengguntungkan para pemain asset-aset keuangan dan pemilik pemilik real estate, sementara mayoritas rakyat masih terbelenggu dalam kemiskinan.

The Fed sendiri memiliki angka-angka ini, mereka mengumpulkan data tersebut bagi mereka. Jumlah rakyat miskin di AS sejak 2007 mengalami kenaikan 40%. Hany sekiar 0.1 persen saja rakyat AS yang hidup sejahtera. Sistem di AS dianggap hanya menguntungkan bagi golongan kaya saja. Ini merupakan jalan kapitalisme, dimana The Fed melakukan pencetakan-pencetakan uang sehingga menimbulkan situasi sebagaimana say ini, dimana biaya hidup meningkat khususnya bagi masyarakat AS yang berpendapatan rendah akibat kenaikan biaya energy, transportasi, kesehatan dan pangan.

Sebaliknya kaum kaya AS tidak begitu sengsara dengan kondisi saat ini, misalnya masalah pangan, bagi mereka hanya sedikit sekali porsinya diantara pengeluaran mereka. Pengeluaran mereka bisa beragam termasuk sewa jet, mobil mewah dan layanan eksekutif lainnya. Bagi rakyat AS yang berpengahasilan setahun $40,000, dimana 30% hingga 40% dibelanjakan untuk makanan, energy dan transportasi maka setiap dolar kenaikan ini akan sangat berarti, disaat segelintir rakyat AS, sekitar 0.1 persen masih bisa menikmati hidup bak di surga. (