Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Dengan Scan Otak, Diagnosis Depresi Sudah Bisa Dikeluarkan

6412c3a0-e46f-4522-a40c-63c743b9b06c_169Rifan Financindo Berjangka -?Untuk menentukan apakah seseorang diserang depresi atau tidak, biasanya dokter harus melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari perubahan perilaku hingga pola pikir.

Tetapi peneliti dari Australia menyebut, hanya dengan bermodal scan otak saja, dokter dapat mengetahui apakah seseorang mengidap depresi atau tidak. Bahkan ia bisa menentukan jenis depresi yang diidap si pasien.

Temuan ini diperoleh setelah peneliti melakukan scan MRI pada orang-orang yang telah didiagnosis dengan depresi sembari meminta mereka menonton film dengan dua genre yang berbeda, yang satu sedih dan satunya gembira.

Menurut ketua tim peneliti, Dr Michael Breakspear , dari situ terlihat adanya perbedaan neurobiologis otak yang jelas antara satu bagian dengan bagian lainnya, yang dikatakan peneliti sebagai petunjuk adanya perbedaan jenis depresi yang mereka alami.

Dengan metode yang sama, Dr Breakspear dan timnya mengaku berhasil menemukan empat jenis depresi yang berbeda hanya dengan didasarkan pada perbedaan pola aktivitas otaknya.

Ketua tim peneliti, Dr Michael Breakspear berharap temuannya itu akan membantu dokter untuk menentukan gejala depresi pada seseorang, yang biasanya tumpang-tindih satu sama lain.

“Selama ini kita hanya menggolongkan pasien berdasarkan gejalanya saja. Tetapi dengan kemajuan teknologi pencitraan, kita sampai pada titik di mana kita bisa menentukan perbedaan jenis depresi hanya dari otaknya dan perbedaan respons mereka terhadap obat-obatan,” katanya seperti dilaporkan ABC Australia.

Bahkan Prof Gordon Parker dari Black Dog Institute, Sydney menanggapi hasil temuan Dr Breakspear dengan mengatakan, setidaknya temuan ini memberikan pandangan baru bahwa kelak dokter dapat memisahkan gejala depresi dengan kondisi mental lainnya hanya dari sisi biologis otaknya.

“Dan ketika kita tahu penyebab dan bagian otak mana yang diserang, ada kesempatan bagi kita untuk mengembangkan pengobatan yang lebih tepat sasaran,” pungkasnya.