Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Dendang, Alunan Yang Pudar | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifan Financindo – Semarang,?Kabupaten Aceh Singkil adalah daerah eksotis yang menyimpan kekayaan seni dan budaya. Salah satunya permainan musik arak damping atau dendang Melayu khas Pulau Banyak, kepulauan di bagian barat Aceh Singkil. Sejak dahulu kala, arak damping dimainkan, mengiringi acara adat, seperti khitanan, pernikahan, hingga tarian khas Pulau Banyak.

Kesenian itu tak sekadar memainkan musik, tetapi juga menyampaikan atau mendendangkan syair berisi petuah kepada mempelai hingga para pemimpin. Namun, dewasa ini kesenian itu mulai tersisih. Bahkan, sering kali petuah atau nasihat tak terdengar, termasuk oleh para pemimpin yang disambut dengan kesenian itu. Kondisi ini menjadi cermin nyata bahwa orang-orang, khususnya para pemimpin, sering abai bahkan tak mau lagi mendengar petuah.

Kondisi itu tampak ketika 10 lelaki paruh baya yang menjadi tim arak damping dalam naungan kelompok musik Dendang Sakti akan menyambut kedatangan Gubernur Aceh Zaini Abdullah di Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, Minggu (24/7/2016). Zaini datang membuka Festival Pulau Banyak Ke-1 yang berlangsung 24-25 Juli.

Sejak pukul 12.00, pemain arak damping yang berusia 45-65 tahun itu bersiap dengan peralatan musiknya. Seorang bersiap dengan biola putih tua dan sembilan orang bersiap dengan rebana usang masing-masing.

Sayang, kedatangan rombongan gubernur molor. Saat penat menghinggapi, tangan mereka refleks memukul-mukul rebana. Tak lama, pemain biola menggesek-gesek dawai. Lantunan rebana dan biola itu kemudian diiringi syair oleh salah seorang pemain rebana.

Spontan mereka memainkan arak damping. Terhiburlah mereka. Warga di sekitarnya pun demikian. “Daripada bosan menunggu, lebih baik kami menghibur diri dan orang-orang di sini yang sudah bosan menunggu,” ujar Tarmizi (63), seorang penabuh rebana Dendang Sakti.

Memasuki pukul 17.00, kapal rombongan gubernur tiba. Ketika rombongan menginjakkan kaki di Pulau Balai, pemain arak damping lantas beraksi dengan rebana dan biola serta mendendangkan syair petuah yang isinya, antara lain, mengingatkan pemimpin menjadi pejabat amanah, jujur, dan adil.

Gubernur menerima kalungan bunga lalu melihat permainan musik dan atraksi tim marching band, yang notabene bukan seni ataupun budaya asli daerah itu.

Para pemain arak damping itu ditinggal begitu saja. Kekecewaan terlihat dari raut muka pemain. Tak lama setelah ditinggal mereka sepakat tidak mengikuti rombongan. “Kami pulang untuk mempersiapkan pentas nanti malam,” ucap Makmur (55), pemimpin Dendang Sakti.

Ajak kebaikan

Makmur mengatakan, arak damping bermakna rombongan pendamping. Rombongan itu adalah rombongan pemain musik dendang Melayu khas Pulau Banyak. Mereka biasanya mendampingi atau menjadi penghibur dalam acara adat khas Pulau Banyak, seperti pernikahan, khitanan, ataupun pergelaran tari.

Musik itu selalu dimainkan beramai-ramai oleh 5-15 orang. Umumnya, seorang memainkan biola dan sisanya memainkan rebana. Nantinya, seorang di antara mereka merangkap menjadi pendendang syair. Pendendang itu tidak mutlak satu orang, tetapi bisa bergantian.
Syair itu berisi petuah menyesuaikan acara atau kegiatan yang berlangsung. Jika pernikahan, petuahnya agar mempelai menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah. Jika khitanan, petuahnya agar yang dikhitan menjadi lebih mandiri. Jika acara pemerintahan, petuahnya agar pemimpin menjadi pejabat amanah, jujur, dan adil.

“Tak jarang syair berisi kritik dan keluh kesah masyarakat. Namun, semua untuk kebaikan,” kata Makmur yang mendirikan Dendang Sakti pada 1999.

Kebudayaan itu sudah berkembang sejak lama di gugusan Pulau Banyak. Konon, budaya itu dibawa pendatang, terutama asal Minangkabau, Sumatera Barat, yang memang menjadi suku terbanyak di Pulau Banyak dan Aceh Singkil. Hal itu turut dipengaruhi sejarah daerah yang pernah menjadi pintu gerbang utama perdagangan dan masuknya Islam di barat Aceh.

Pemain arak damping atau dendang Melayu khas Pulau Banyak sedang beraksi sembari menanti kedatangan rombongan Gubernur Aceh Zaini Abdullah di Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, Minggu (24/7/2016). Arak damping merupakan permainan musik khas Pulau Banyak yang dimainkan untuk mengiringi acara adat, seperti pernikahan, khitanan, hingga tarian. Kesenian itu tak sekadar memainkan musik, melainkan pula menyampaikan ataupun mendendangkan syair yang berisi petuah atau nasihat kepada mempelai pernikahan hingga para pemimpin. Namun, dewasa ini, kesenian itu mulai tersisih. Bahkan, sering kali petuah atau nasihatnya tak didengar, termasuk oleh para pemimpin yang disambut dengan kesenian itu. Kondisi ini menjadi cermin nyata bahwa orang-orang, khususnya para pemimpin sering abai bahkan tak mau lagi mendengar petuah yang sesungguhnya untuk kebaikan.

Kian tersisih

Dahulu kala, Makmur melanjutkan, sejak kecil, orang-orang Pulau Banyak dilatih bermain rebana, biola, dan mendendangkan syair. Tujuannya agar regenerasi pemain arak damping berkelanjutan. “Saya belajar memainkan rebana dan mendendangkan syair sejak usia 16 tahun dari orang-orang tua kampung,” tuturnya.

Namun, pasca tsunami 2004, arak damping mulai tersisih. Kini, warga lebih suka memakai jasa organ tunggal untuk menghibur tamu dalam hajatan. Bahkan, Dendang Sakti paling banyak tampil tujuh kali dalam setahun. “Padahal, dulu, kami bisa tampil satu kali hingga dua kali kali per bulan,” ujar Makmur.

Makmur menambahkan, generasi muda Pulau Banyak sudah tak tertarik berlatih arak damping. Anak-anak lebih suka bermain video game dan menonton televisi. Sementara pemuda menilai berlatih arak damping tidak menghasilkan. Mereka lebih memilih bekerja sebagai nelayan, petani, atau buruh perkebunan sawit yang lebih jelas penghasilannya.

Akibatnya, regenerasi arak damping tersendat. Bahkan, kini, hanya Dendang Sakti yang masih eksis memainkan arak damping di Pulau Balai yang merupakan pulau terbesar dan berpenduduk paling banyak di gugus Pulau Banyak.

Mengingat usia anggota Dendang Sakti yang rata-rata 45-65 tahun, keberadaan arak damping mungkin tak lama lagi. “Arak damping ini akan punah jika kami meninggal karena tak ada lagi penerus kami,” ucap Ahman (65), pemain biola satu-satunya di Dendang Sakti.

Ketua Dewan Kesenian Aceh Singkil Aslym Combih menuturkan, arak damping merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan seni dan budaya lokal di Aceh Singkil yang hampir punah. Kondisi itu terjadi karena minim kesadaran untuk mempertahankan, tidak ada jaminan penghasilan bagi para seniman, dan tidak ada wadah pentas yang berkelanjutan.

Untuk melestarikan kesenian khas daerah itu, pemerintah harus menjamin penghasilan seniman dan menyediakan wadah pentas berkelanjutan. “Jika tidak sanggup, pemerintah harus bekerja sama dengan swasta, seperti agen perjalanan,” katanya.

Bupati Aceh Singkil Safriadi menyebutkan, melalui Festival Pulau Banyak, diharapkan segala potensi pulau itu kian terpublikasi, termasuk kekayaan seni dan budayanya. Hal itu pun diharapkan berkontribusi untuk mempertahankan dan memajukan pariwisata, serta segala kekayaan seni dan budaya di daerah itu.