Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Brexit Kembali Menjatuhkan Saham Asia | RIFANFINANCINDO

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifanfinancindo – Semarang, Saham Asia dan poundsterling turun pada hari Selasa menjelang pidato Perdana Menteri Inggris Theresa May yang bisa memberikan implikasi untuk sentimen risiko yang lebih luas.

Media telah melaporkan bahwa May, yang dijadwalkan berbicara hari ini, akan membeberkan rencana untuk keluar dari Uni Eropa yang akan menyebabkan Inggris kehilangan akses ke pasar tunggal blok itu.

Kekhawatiran dengan apa yang disebut ” hard Brexit ” telah memukul sterling yang turun ke posisi terendah tiga bulan terhadap dolar dan melemahkan selera investor secara lebih luas untuk ekuitas minggu ini.

Tumbuhnya ketidakpastian atas kebijakan dari Donald Trump juga telah menyakiti ekuitas, yang telah reli di berbagai belahan dunia berkat spekulasi bahwa Presiden terpilih AS akan memberlakukan stimulus dan langkah-langkah reflationary yang berani di saat dia menjabat.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen. Perdagangan ringan berlangsung menyusul ditutunyap Wall Street pada hari Senin untuk Martin Luther King Day.

Nikkei Jepang turun 0,3 persen dan saham Australia kehilangan 0,8 persen.

Sterling turun ke level $ 1,2037, mata ang ini itu telah jatuh ke level $ 1,1983 pada hari sebelumnya, yang tercatat sebagai posisi terendah sejak 7 Oktober.

Saham China memerah untuk hari keenam, dengan indeks acuan menuju rentetan penurunan terpanjang sejak Desember 2013.

Shanghai Composite Index turun 0,7 persen ke level 3,082.75 pada pukul 09:57 pagi waktu setempat. Indeks saham Shenzhen berayun antara di keuntungan dan kerugian setelah membukukan penurunan intraday tertajam dalam 10 bulan pada hari Senin. Indeks Hang Seng Hong Kong sedikit berubah.

Bursa saham China telah merosot sejak awal Desember bersama dengan obligasi negara menyusul kondisi moneter yang mengetat. Bank sentral telah menaikkan biaya pendanaan dalam rangka untuk mencegah terjadi gelembung aset. Pada saat yang sama, melemahnya yuan mungkin juga mendorong para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga yang tinggi guna mendukung nilai tukar.

Shenzhen Composite Index turun 0,5 persen. Indeks itu turun sebanyak 6,1 persen pada sesi terakhir sebelum memangkas kerugian 3,6 persen. Indeks ChiNext untuk perusahaan yang lebih kecil jatuh untuk hari kesembilan, menyeret indeks kekuatan relatif menjadi 17,6, yang tercatat sebagai tingkat terendah sejak 2012.

Semakin banyak investor yang mengambil posisi bearish pada saham nasional. Spekulan di AS telah meningkatkan penjualan pendek dari dana yang diperdagangkan di bursa yang melacak pasar ekuitas domestik China ke level tertinggi satu tahun, sedangkan Shanghai Composite telah merosot lebih dari 5 persen sejak akhir November.