Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

‘Black Swan’ Dalam Diri CR7

rifan financindo berjangka

Rifan Financindo Berjangka – Semarang,?Jika diumpamakan repertoar, cederanya Ronaldo di awal final Euro 2016 ialah overture (bagian pembuka) yang melempangkan munculnya klimaks yang kaya narasi.

Kendati hanya mencetak tiga gol, hanya dua kali menjadi man of the match,dan hanya delapan kali menyentuh bola di laga final, tetap saja Ronaldo yang pada akhirnya menjadi pusat. Setelah pertandingan berakhir, dengan sadar ia membuka baju menunjukkan otot-otot liatnya seolah bermain penuh selama 120 menit, dengan penuh percaya diri mengambil posisi di tengah saat tim Portugal berkumpul di lapangan bersorak sorai, juga saat Portugal naik ke podium.

Dialah sang protagonis: tak selalu dicintai, tak semua menyukai, tapi tetap menjadi yang utama.

Merujuk skenario pertunjukan balet berjudul ‘Swan Lake’ yang cerita dan musiknya digubah maestro Pyotr Ilyich Tchaikovsky (dipentaskan pertama kali pada 1877 di Bolshoi Ballet, Moskow), Ronaldo adalah Odette, si angsa putih. Angsa putih merujuk bukan hanya karakter yang baik dan cantik, namun juga lakon utama. Ia menjadi sorotan, penuh pesona dan akhirnya diidam-idamkan semua orang. Penonton memimpikannya sebagai kekasih, semua balerina menginginkan perannya.

Siapa yang pernah menonton film ‘Black Swan’ (2010) mengetahui Nina Sayers (diperankan Natalie Portman) dan Lily (diperankan Mila Kunis) sama-sama menginginkan peran itu. Yang menarik dari film ‘Black Swan’ adalah angsa putih dan hitam tampil sebagai amsal dari kepribadian yang kompleks, yang tidak hitam-putih ? ketika yang hitam bisa menjadi putih, saat yang putih menyelinap ke dalam yang hitam. Film ‘Black Swan’ mengingatkan penonton betapa manusia pada dasarnya punya banyak sisi, setidaknya dua sisi: gelap dan terang, putih dan hitam. Keduanya saling melengkapi, saling menyempurnakan.

Jika Ronaldo adalah angsa putih, lalu siapa yang menjadi angsa hitam untuk Portugal? Dapatkah Anda melihat di mana si angsa hitam? Bisakah Eder juga menjadi “angsa hitam”?

Bagi Ronaldo, iya. Gol Eder, dari sisi Ronaldo, jelas menggenapkan kariernya yang gemilang. Lengkap sudah jenis gelar yang ia peroleh, dari gelar individual, level klub hingga tim nasional. Gol itu juga memungkinkan, sekali lagi, Ronaldo mencuat sebagai pusat panggung sekaligus menyempurnakan Ronaldo sebagai angsa putih yang tak bercela, bukan angsa putih yang gagal (di final) sehingga kegemilangannya tercoreng.

Namun bukan hanya itu! Eder juga menyempurnakan sejarah Portugal sehingga bisalah ia dibilang sebagai “angsa hitam” bagi sepakbola Portugal. Dialah “angsa hitam” sebagaimana diutarakan Nassem Nicholas Taleb dalam bukunya yang termasyhur, ‘The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable (edisi bahasa Indonesia terbit 2009)’.

Sebelum Taleb menulis buku itu, istilah “angsa hitam” sudah jamak dibicarakan terutama dalam filsafat (khususnya epistemologi). “Angsa hitam” menjadi simbol yang mematahkan teori yang sudah mapan. Karena angsa di mana-mana berwarna putih, maka wajar jika ditarik teori “angsa itu putih”.

Cara bernalar semacam itu, yang berangkat dari fakta-fakta khusus lalu ditarik menjadi kesimpulan/teori, disebut penalaran induktif. Kesimpulan yang lahir dari penalaran induktif gampang dipatahkan begitu muncul satu fakta yang berkebalikan. Dalam hal “angsa putih”, begitu ditemukan seekor angsa hitam, cukup satu ekor saja, tak peduli milyaran angsa lainnya berwarna putih, maka teori “angsa putih” dengan sendirinya ter-falsifikasi.

Falsifikasi dimasyhurkan Karl Popper. Melalui falsifikasi, Popper hendak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berkembang bukan karena terbukti benar namun justru karena dapat dibuktikan salah. Pengetahuan yang terbukti salah mesti dinyatakan gagal dan diganti pengetahuan lain, pengetahuan yang baru, dan terus begitu. Ilmu pengetahuan, dengan demikian, berkembang justru melalui kesalahan.

Berbeda dengan Popper yang menggunakan “angsa hitam” dalam problem filsafat epistemologi, Taleb menggunakan “angsa hitam” untuk memahami peristiwa yang mengejutkan, tak terduga, menimbulkan dampak yang besar, namun setelahnya orang dapat menyusun rasionalisasi terhadap hal itu.

Dalam bukunya Taleb menyebutkan beberapa contoh “angsa hitam” dalam sejarah, seperti peristiwa 9/11 atau kemunculan Hitler (jika saya boleh menambahkan: kemunculan Soeharto pada 1965 dan Mao Tse Tung sejak long march). Semuanya tak terduga, atau sangat sedikit yang dapat menduga, mengejutkan, berdampak besar, dan setelah peristiwanya terjadi barulah orang-orang dapat membuat rasionalisasinya.

Bagi Portugal sendiri, Eder menyerupai “angsa hitam” yang mematahkan teori bahwa Portugal tak mungkin menjadi juara di turnamen besar jika tak memiliki penyerang tengah kelas wahid.

Setelah Eusebio, Portugal lebih dikenal sebagai penghasil gelandang (sayap maupun tengah) yang mumpuni yang bermain di klub top pada zamannya: Paulo Futre (Marseille dan AC Milan), Luis Figo (Barcelona, Real Madrid), Rui Costa (Fiorentina, AC Milan), Sergio Conceicao (Lazio), Deco (Barcelona, Chelsea), hingga Cristiano Ronaldo (Man United, Real Madrid). Nama-nama itu tumbuh bukan sebagai penyerang tengah. Dalam 1,5 dekade terakhir, deretan penyerang tengah yang hilir mudik dalam skuat Portugal hanyalah Helder Postiga, Nuno Gomes atau Pauleta.

Pencapaian tertinggi Portugal sebelum menjuarai Euro 2016 hanyalah runner-up Euro 2004 dan semi final Piala Dunia 2006. Saat menjadi runner-up Euro 2004, Portugal hanya mengandalkan Helder Postiga yang bermain untuk Tottenham Hotspurs (musim 2004 Spurs ada di peringkat 14), Nuno Gomes yang bermain di liga domestik bersama Benfica dan Pauleta yang bermain di Paris St. Germain (PSG 2004 bukanlah PSG yang mewah seperti sekarang). Saat menembus semifinal Piala Dunia 2006, penyerang tengah yang dibawa Portugal masih tiga pemain itu, ditambah Luis Boa-Morte yang bermain di Fulham.

Mundur ke belakang, kala Portugal lolos ke semifinal Euro 2000, Nuno dan Pauleta juga sudah ada dalam skuat, plus Joao Pinto (Benfica) dan Ricardo Sa Pinto yang bermain untuk Real Sociedad (musim 2000 Sociedad di peringat 13). Lebih ke belakang lagi, kala Portugal lolos hingga semi final Euro 1984, mereka juga hanya mengandalkan penyerang tengah dengan kapasitas domestik seperti Diamantino Miranda dan Tamagnini Nene (Benfica), Fernando Gomes (Porto), dan Rui Jurdao (Sporting Lisbon).

Sejarah panjang ketiadaan penyerang tengah kelas wahid itulah yang membuat Portugal di Euro 2016 tak berharap banyak pada penyerang tengah. Hanya satu penyerang tengah yang dibawa Santos, siapa lagi kalau bukan Eder, yang dicampakkan Swansea (bahkan kesebelasan bernama “swan” alias “angsa” pun menampiknya). Swansea lebih memilih Befetimbi Gomis, penyerang Prancis yang sama sekali tak dilirik Didier Deschamps.

Santos awalnya mencoba memaksimalkan Eder. Dalam dua laga awal babak grup Euro 2016, ia memasukkan Eder sebagai pengganti kala menghadapi Islandia dan Austria. Hasilnya: jangankan mencetak gol, membuat tembakan saja Eder tak sanggup.

Wajar jika Santos “kapok” menurunkan Eder. Empat laga berikutnya (vs Hungaria, Kroasia, Polandia dan Wales), Eder tak lagi berkeringat. Santos memilih mengandalkan Ricardo Quaresma kala ingin menambah sengatan saat Ronaldo dan Nani dirasa mentok. Hasilnya memuaskan. Masuk dari bangku cadangan, Quaresma membuat satu asis vital untuk gol Ronaldo ke gawang Hungaria dan satu gol menentukan ke gawang Polandia.

Namun sesuatu yang tak terduga muncul di final. Ronaldo hanya bermain efektif selama 10 menit dan keluar lapangan pada menit 25. Santos harus melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan di laga sebelumnya: memasukan Quaresma di babak pertama. Artinya, Quaresma masuk bukan sebagai siasat namun dalam situasi terpaksa.


Cederanya Ronaldo lantas tak hanya menjadi overture bagi revelasi (terkuaknya kebenaran) bahwa Portugal bukanlah one man team, sekaligus menjadi overture kemunculan “angsa hitam”.

Pada paragraf-paragraf awal bab “Umberto Eco’s Antilibrary or How We Seek Validation“, Taleb menulis bahwa “angsa hitam” muncul dari kesalahpahaman terhadap apa yang disebut “kejutan”. Dan kesalahpahaman itu dikarenakan, tulis Taleb, terlalu menganggap serius sesuatu yang sebenarnya hanya sedikit kita ketahui (we take what WE KNOW a little too seriously).

Taleb menganggap preposisi “kita tahu” (we know) hanyalah ilusi. Preposisi “kita tahu” sering tak berdasar, dan sialnya dipercaya begitu saja dan tak pernah mau diuji (ingat pentingnya teori diuji menurut Popper). Teori bahwa Portugal tak akan mencicipi gelar bergengsi tanpa keberadaan penyerang tengah top, misalnya, adalah contoh preposisi “kita tahu” yang tak diuji secara serius. Padahal ada fakta lain, sejenis “angsa hitam”, yaitu Prancis yang menjuarai Piala Dunia 1998 tanpa dibantu satu pun gol dari para penyerang tengah.

“Kita tahu” bahwa Portugal dalam dua dekade terakhir hanya mengandalkan bakat-bakat hebat di lini tengah. “Kita tahu” bahwa Portugal sering disulitkan oleh tiadanya penyerang tengah papan atas yang dapat mengkonversi bakat-bakat di lini tengah menjadi gol. “Kita tahu” Eder bukanlah penyerang top. “Kita tahu” Eder bermain biasa-biasa saja, jika bukan jelek, ketika diturunkan dalam dua laga awal (tanpa membuat satu pun tembakan, dan hanya membuat empat umpan).

Pada akhirnya, “kita tahu” tak lagi berlaku di final Euro 2016. Setelah itu segalanya menjadi abadi, termasuk pernyataan Fernando Santos tentang Eder yang nadanya menyerupai sebuah anekdot: “Bebek buruk rupa masuk lapangan dan mencetak gol. Kini ia angsa yang cantik.”
Dialah yang akhirnya menuntaskan panggilan sejarah yang disebut Fernando Pessoa, maestro sastra Portugal, dalam sajak O Invante: “Tuhan, Portugal harus menuntaskannya sendiri!”

Tanpa Eder, sejarah Portugal belum bisa dibilang terpenuhkan, masih tak tertuntaskan. Siapa yang menduga jika kehebatan Portugal melahirkan bakat-bakat hebat sepakbola, sampai-sampai dijuluki “Brasil-nya Eropa”, justru disempurnakan pemain yang bakatnya biasa saja, penyerang yang tercampakkan, semacam Eder?

Inilah momen yang dimaksud Taleb, masih dalam buku yang sama, sebagai: (saat) statistik tak terlihat, anekdot mencuat.