Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

ARISAN MAMI GAUL BERUJUNG PENIPUAN, CALO PNS MENIPU| RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – SEMARANG, Polres Banyuwangi masih melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kasus dugaan penipuan investasi bodong dan arisan Mami Gaul. 

Tak hanya itu, polisi masih memburu YR, Ketua Arisan Mami Gaul, yang saat ini menghilang. Namun, polisi sampai saat ini masih belum memasukkan YR dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Kami tidak men-DPO- kan YR. Memang kita cari tapi saat ini kita masih fokus penyelidikan dan penyidikan terlebih dahulu kasus ini,” ujar AKP Sodik Efendi, Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, kepada detikcom, Kamis (13/7/2017).

Menurut AKP Sodik, penetapan DPO terhadap terduga pelaku penipuan masih belum diperlukan. Selain itu, perlu prosedur tertentu menetapkan DPO orang yang diduga melakukan tindak kriminal.

“Prosedurnya panjang. Nanti jika diperlukan kita akan tetapkan DPO,” tambahnya.

Korban arisan dan investasi bodong ‘Mami Gaul’ yang dilakukan YR, rupanya tak hanya menimpa relasi. Sahabatnya pun juga jadi korban dugaan penipuan ini. Adalah Shinta Aprilia, warga Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Padahal Shinta juga turut membantu saat YR kesulitan uang.

Shinta mengalami kerugian Rp 110 juta. Belum sempat menikmati hasil arisan dan investasi, uang miliknya pun hilang digondol YR kabur pergi entah kemana.

“Saya kok ya juga jadi korban YR. Padahal dia itu sudah saya bantu banyak. Mulai tidak kenal sama siapa saja hingga kenal dan ikut arisan. Ndak taunya nipu. Uang saya juga dibawa dia,” kata Shinta kepada detikcom, Senin (17/7/2017)

Sementara Shinta mengaku tahu persis kasus penipuan yang dijalankan oleh YR. Saat itu YR mengaku bingung untuk membayar arisan dan investasi yang dikembangkan. Salah satunya adalah arisan mobil. Para member dipersilahkan memilih mobil yang dikehendaki.

“Ada yang namanya Devi itu ikut arisan mobil, ambil Honda HRV 3 unit dan Toyota Calya 1 unit dengan masing-masing DP Rp 7,5 juta. Namun 4 bulan tak kunjung datang mobil tersebut. Akhirnya terpaksa YR mengambil kredit HRV 1 unit. Namun ditolak oleh Devi lantaran spek mobilnya tidak sesuai perjanjian. Devi meminta uang arisan dikembalikan secara penuh,” tambahnya.

Dari permintaan Devi tersebut, kata Shinta, YR kembali membuka arisan dan investasi bodong dengan bunga 50 persen, untuk mengembalikan dana yang sudah ditanamkan Devi. Korban semakin bertambah. Para member baru pun tak tahu jika uangnya untuk mengganti uang milik Devi yang sudah ditilep oleh YR.

“Kita tidak tahu kalau uang kita itu untuk mbayar Devi. Tahunya kita setelah semuanya terungkap,” jelasnya.

Shinta mengaku uangnya yang dibawa oleh YR sebanyak Rp 110 juta. Uang tersebut adalah uang miliknya dan uang milik orangtuanya. Hingga saat ini dirinya tak mengetahui dimana keberadaan YR.

“Yang jelas kami berharap dia mau menyerahkan diri. Mau tanggung jawab dengan perbuatannya,” tandasnya.

Pemerintah membuka ribuan kursi CPNS di 2017 ini. Dalam situasi ini, biasanya muncul calo CPNS yang mengaku-aku bisa membantu lewat jalur belakang. Benarkah?

Berdasarkan putusan yang dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Minggu (16/7/2017), tipu-menipu tersebut sudah lazim ditemui. Seperti yang dialami oleh Parmin yang ingin memasukkan anaknya menjadi PNS di Dinas Kesehatan Labuhan Selatan, Sumatera Selatan, pada 2011 silam.

Dalam kondisi demikian, Parmin bertemu Erfinsyah Nasution (44) yang mengaku bisa mencari jalan belakang agar anak Parmin jadi PNS. Tapi upaya itu tidak gratis. Parmin diminta menyediakan Rp 200 juta. Sebagai uang muka, Parmin menyetor Rp 150 juta. Sisanya akan dibayar bila sudah dinyatakan lulus.

Parmin menyanggupinya dan uang pun berpindah tangan. Tapi hingga ditunggu sampai Februari 2012, nama anak Parmin tak lulus. Parmin pun mempolisikan Erfinsyah dan akhirnya Erfinsyah duduk di kursi pesakitan.

Pada 2 November 2015, Pengadilan Negeri (PN) Rantau Prapat menjatuhkan hukuman 10 bulan penjara kepada Erfinsyah. Hukuman itu diperberat menjadi 1 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan pada 20 Januari 2016.

Pada 21 Desember 2016, vonis itu dikuatkan Mahkamah Agung (MA). Duduk sebagai majelis kasasi yaitu Artidjo Alkostar, Sofyan Sitompul dan Sri Murwahyuni. Erfinsyah dikenakan pasal penipuan sesuai KUHP.

Di kasus lain, Krisman Sagala juga ingin memasukan anaknya menjadi PNS di Simalungun pada 2011. Ia tergiur tawaran Herlina Saragih yang menjanjikan bisa membantu anak Krisman menjadi CPNS, asalkan ada uang Rp 60 juta.

Namun setelah waktu pengumuman seleksi diumumkan, nama anaknya Krisman tidak muncul. Krisman tak terima dan melaporkan ke kepolisian. Herlina akhirnya diproses dan diadili di meja hijau.

Pada 16 Februari 2016, Herlina dijatuhi hukuman 1 tahun penjara oleh PN Simalungun. Vonis itu dikuatkan PT Medan dua bulan setelahnya. Nasib Herlina bergeming saat Artidjo-Sofyan-Sri Murwahyuni menolak kasasi Herlina pada 21 Desember 2016.

Berbeda dengan dua kasus di atasnya, di Lebak, Banten, jaksa menjerat Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) dr Venny Iriani Amaliah dengan UU Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

Venny melakukan jual beli CPNS 2013 kepada para peminat dengan tarif Rp 10 hingga Rp 50 juta. Total uang terkumpul Rp 871 juta. Uang itu lalu dibagi antara Venny dan anak buahnya yang mengkoordinir pelicin tersebut.

Tapi apa daya, janji tinggal janji. Para penyetor yang tak kunjung menjadi PNS lalu melaporkan Venny ke aparat. Akhirnya Venny dihukum 3,5 tahun penjara di tingkat kasasi. Duduk sebagai ketua majelis Artidjo Alkostar dengan anggota Krisna Harahap dan MS Lumme.

Jual beli CPNS juga dilakukan Bupati Bangkalan, Fuad Amin selama bertahun-tahun. Selaku Bupati, Fuad memiliki kewenangan mengangkat PNS di lingkungan Pemda Bangkalan.

Setiap pengangkatan PNS ia tariki uang dengan modus bervariasi, dari Rp 15 juta hingga ratusan juta. Tergantung posisi jabatan CPNS yang diincar pencaftar.

Dari penerimaan dan penempatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Bangkalan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2010, Fuad mengantongi uang panas Rp 20.174.000.000.