Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Arab Saudi Vs Iran, Ada Apa dengan Harga Minyak?

Iraq?s_Khawr_Al_Amaya_Oil_Platform_KAAOT_just_after_sunrise-700x357

Rifan Financindo Berjangka? – Dunia saat ini tengah diguncang dengan jatuhnya harga minyak mentah dunia yang jatuh ke level USD28 per barel. Banyak faktor yang mempengaruhi jatuhnya harga emas hitam tersebut.

Namun digadang-gadang karena perseteruan Arab dan Iran. Benarkah?

Arab Saudi menegaskan jatuhnya harga minyak diakibatkan oleh kelebihan pasokan. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyakiti perekonomian negara Iran.

“Orang-orang harus kembali ke Adam Smith dan ekonomi dasar. Ini tentang penawaran dan permintaan,” ungkap Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir melansir CNN, Kamis (21/1/2016).

Seperti diketahui, produksi minyak AS telah membanjiri dunia dan harga telah jatuh hampir 75 persen sejak pertengahan 2014. Minyak mentah jatuh ke level terendah selama 12 tahun ke USD27,92 pada Selasa lalu.

Meski demikian, Arab Saudi masih enggan memotong produksinya. Bahkan, negara tersebut justru memompa minyaknya dengan kecepatan tinggi.

Strategi Arab Saudi ini dirancang untuk melindungi negaranya, sehingga tidak akan kehilangan pangsa pasar kepada produsen berbiaya tinggi di Amerika Serikat dan di tempat lain.

“Kami membiarkan pasar menentukan di mana kesetimbangan seharusnya. Apa yang kita lihat sekarang adalah harga pasar,” kata al-Jubeir.

Akan tetapi, beberapa pihak melihat langkah Arab Saudi sebagai motif geopolitik yaitu keinginan untuk menyakiti Iran. Pasalnya, dua gembong OPEC ini terlibat dalam kejadian menakutkan awal bulan ini atas eksekusi Arab Saudi dari ulama Syiah terkemuka dan pembakaran kedutaan Saudi di Iran.

Saat ini, sanksi internasional Iran telah dicabut dan membuat negara itu dapat kembali ke pasar minyak dunia. Hal ini yang menimbulkan beberapa spekulasi bahwa Arab Saudi sedang mencoba untuk menyakiti Iran dengan anjloknya harga.

Ekonomi Iran telah siap untuk rebound dan berencana untuk segera meningkatkan produksi minyak 500 ribu barel per hari, serta bertujuan untuk meningkatkan produksi sebanyak 1 juta barel dalam waktu satu tahun.

“Mereka khawatir tentang penataan potensi kekuatan di Timur Tengah jika Iran yang muncul dari bayang-bayang sanksi dan menegaskan untuk kembali sendiri ke pasar minyak,” kata Direktur Columbia Center pada Kebijakan Energi global, Bordoff.

Namun, Arab Saudi, yang bergulat dengan tekanan keuangannya karena harga minyak murah, menegaskan pihaknya tidak main-main dengan pasar minyak.

“Anda tidak bisa memanipulasi pasar dan mampu melakukannya secara konsisten,” kata al-Jubeir.

“Jika Anda mencoba untuk memanipulasi satu cara atau yang lain, akhirnya Anda overshoot atau undershoot dan Anda membayar harga yang luar biasa untuk itu,” tambahnya.(rai)

 

(rhs)