Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

ANTARA GAJI, KOMISI, TUNJANGAN ATAU BONUS YANG MENARIK? | RIFANFINANCINDO

rifanfinancindo

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – SEMARANG, Sering saya ditanya oleh para pengusaha, baik klien ActionCOACH atau saat saya mengasuh acara bincang bisnis. “Coach, kalau bonus itu dijanjikan diawal boleh atau tidak?”. Atau, “Manajer saya minta tunjangannya dinaikkan, apakah ada ukuran yang baku untuk menaikkannya, berapa persen?” Dan masih banyak lagi yang bernada seperti pertanyaan-pertanyaan di atas.

 

Ada baiknya saya ulas secara singkat perbedaan serta batasan dari macam-macam terminologi di atas:

  1. Gaji

Mungkin ini yang paling mudah dan sudah jelas. Gaji adalah satuan upah sebagai pengganti keahlian, waktu dan tenaga yang dicurahkan seorang pegawai dalam perusahaan. Besar kecilnya gaji tergantung seberapa besar waktu atau tenaga, dan seberapa ahli tenaga kerja yang di’beli’ perusahaan tersebut.

  1. Insentif

Insentif sebetulnya adalah ‘tambahan’ uang, sebagai upaya meminta pekerja mengerjakan tugas tertentu. Misalkan: seorang pekerja diminta untuk mengerjakan tugas tambahan, di luar tugas pokoknya.

Lalu si pekerja diberi insentif agar berkenan melakukan tugas extra itu. Insentif bersifat sementara dan kasuistis. Bila pekerjaan ekstra itu berlangsung permanen, maka insentif dilebur menjadi gaji, alias ada penyesuaian gaji atas beban pekerjaan barunya.

  1. Tunjangan

Mungkin dari semua istilah, ini adalah yang paling sering kurang tepat penggunaannya. Sebenarnya istilah tunjangan ini muncul apabila si pekerja butuh ditunjang agar mampu bekerja secara profesional pada bagiannya masing-masing.
Contoh: tunjangan rumah. Ini diberikan bagi pekerja yang dipekerjakan diluar kota sehingga butuh tempat tinggal. Tunjangan kendaraan, ini untuk pekerja yang terpaksa pulang pergi jarak jauh dari dan ke tempat kerja.
Ada juga tunjangan jabatan. Untuk jabatan tertentu misalkan manajer pemasaran, si pegawai dituntut untuk berpenampilan rapi dan well-groomed. Dari mana uangnya? Dari tunjangan jabatan itu. Intinya semua yang meningkatkan performa pegawai dan perlu ditunjang, masuk ke dalam post “tunjangan”. Namun hati-hati, tidak semua pegawai perlu diberi tunjangan untuk bisa bekerja optimal.

  1. Komisi

Istilah ini sudah sangat populer di dunia penjualan. Komisi adalah bagi hasil dari sebuah usaha yang memiliki target yang jelas. Komisi memiliki aturan yang mengikat. Besaran komisi ditentukan di depan, dan komisi hanya diberikan bila target yang disepakati di awal tercapai. Bila target tidak tercapai, komisi otomatis tidak keluar.

  1. Bonus

Ini adalah suatu istilah yang paling sering disalah-kaprahkan dengan komisi dan atau insentif.
Secara konseptual, bonus tidak sama dengan istilah-istilah tersebut di atas. Bonus berasal dari kata latin yang bermakna: “atas kebaikan hati”.

Dari dasar makna ini sudah terlihat, bonus tidak ada dasar perhitungan yang mengikat, tidak bisa dijanjikan, dan tidak tergantung oleh target yang dicapai. Bonus murni bentuk ucapan terima kasih owner usaha kepada teamnya.

Besarannya? 100% terserah owner. Apakah setiap tahun sudah pasti ada bonus? Belum tentu, tergantung owner. Dengan kata lain seorang pegawai tidak bisa ‘menuntut’ bonus akhir tahun kepada atasannya. Bonus adalah hak prerogatif owner.

 

Lalu? Setelah paham istilah-istilah di atas, apakah Anda bisa menggunakannya untuk memacu tim anda untuk lebih berkarya? Manakah yang Anda pakai dalam usaha Anda?

Ingat, Anda adalah pengusaha, Anda yang pegang uang. Istilah-istilah di atas tidak dibuat untuk mengekang Anda, namun sebaliknya seharusnya semakin Anda paham perbedaannya, semakin kreatif Anda memacu tim Anda.

Ketahui hal-hal apa yang mendasari perhitungan komisi. Pada umumnya, besarnya komisi dihitung berdasarkan harga beli barang dan jasa yang Anda jual. Akan tetapi, ada perusahaan yang menggunakan dasar perhitungan komisi yang berbeda, misalnya berdasarkan laba bersih atau biaya perolehan barang yang dibayar oleh perusahaan.

  • Tanyakan apakah ada produk dan jasa tertentu yang tidak termasuk dalam perhitungan komisi. Perusahaan mungkin hanya membayar komisi untuk penjualan produk dan jasa tertentu, tidak semua.
  • Ketahui besarnya persentase komisi yang dibayar oleh perusahaan. Contohnya, pembayaran komisi ditentukan sebesar 5 persen dari harga jual semua produk yang terjual.
    • Persentase komisi bisa juga ditentukan berdasarkan jenis produk. Contohnya, perusahaan mungkin akan membayar komisi 6 persen untuk produk yang sulit laku dan hanya 4 persen untuk produk yang mudah terjual.
    • Ketahui apakah ada ketentuan lain dalam perhitungan komisi. Contohnya, ada perusahaan yang menentukan persentase komisi yang berbeda berdasarkan besarnya penjualan produk. Persentase komisi akan berubah jika penjualan mencapai jumlah tertentu.
      • Dalam sistem perhitungan komisi berjenjang, persentase komisi bisa meningkat menjadi 7 persen, misalnya, jika penjualan produk mencapai Rp50 juta.
      • Ketahui periode perhitungan komisi. Pembayaran komisi biasanya dilakukan secara bulanan atau dua mingguan. Contohnya, jika komisi Anda dibayar setiap dua minggu, periodenya mungkin dimulai dari 1 Januari sampai dengan 15 Januari. Ini berarti, komisi yang akan dibayar dihitung hanya berdasarkan penjualan yang dilakukan sejak 1 Januari sampai dengan 15 Januari.Hitunglah komisi berdasarkan penjualan selama periode tersebut. Contohnya, jika komisi Anda dihitung berdasarkan harga beli produk yang terjual dan sejak 1 Januari sampai dengan 15 Januari totalnya adalah Rp30.000.000, komisi Anda akan dihitung dari Rp30.000.000.
        • Jika persentase komisi ditentukan berdasarkan jenis produk, perhitungan komisi harus dilakukan untuk masing-masing produk. Contohnya, jika Anda menjual dua produk dengan penjualan yang sama besar tetapi persentase komisinya berbeda, ingatlah bahwa Anda menjual produk A sebesar Rp15.000.000 dan produk B sebesar Rp15.000.000.
        • Jika ada persentase komisi yang berbeda setelah penjualan Anda mencapai angka tertentu, hitunglah komisi Anda secara berjenjang. Contohnya, jika persentase komisi Anda naik setelah total penjualan Anda mencapai Rp25.000.000, perhitungan komisi tingkat pertama harus dihitung dari Rp25.000.000 dan komisi tingkat ke-2 harus dihitung dari Rp5.000.000.
        • Kalikan persentase komisi dengan dasar perhitungan komisi selama periode penjualan untuk menghitung komisi yang akan Anda terima. Contohnya, jika penjualan produk Anda sebesar Rp30.000.000 sejak 1 Januari sampai dengan 15 Januari dan persentase komisi Anda adalah 5 persen, komisi yang Anda terima adalah Rp1.500.000.[3]
          • Jika persentase komisi berbeda untuk setiap produk, kalikan persentase komisi dengan total penjualan sesuai jenis produk, lalu jumlahkan angkanya. Contohnya, katakan Anda menjual produk A Rp15.000.000 dengan komisi 3 persen dan menjual produk B Rp15.000.000 dengan komisi 6 persen. Komisi yang Anda terima dari produk A jumlahnya Rp450.000 dan dari produk B jumlahnya Rp900.000. Jadi, total komisi yang Anda terima adalah Rp1.350.000.
          • Jika persentase komisi berbeda tergantung pada total penjualan, kalikan total penjualan dengan persentase komisi yang berlaku pada jenjang yang bersangkutan, lalu jumlahkan angkanya. Contohnya, katakan Anda menjual sebesar Rp30.000.000 dengan pembayaran komisi 4 persen untuk jenjang pertama sampai dengan total penjualan Rp25.000.000 dan 6 persen untuk sisanya. Komisi yang akan Anda terima adalah Rp1.000.000 untuk jenjang pertama dan Rp300.000 untuk jenjang ke-2. Jadi, total komisi yang Anda terima adalah Rp1.300.000.