Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

550 MILYAR DARI FIRST TRAVEL, AKANKAH BISA KEMBALI? | RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – SEMARANG, Uang 34 Ribu orang yang mencapai Rp 550 miliar menguap entah ke mana. Di rekening bos First Travel, hanya tersisa Rp 1,3 juta. Skenario besar pun disusun untuk menyelamatkan uang tersebut, dengan segala risikonya.

Berikut berbagai skenario menyelamatkan uang jemaah, sebagaimana dirangkum detikcom, Selasa (22/8/2017):

Jalur Pidana
Jalur pidana ditempuh guna meminta pertanggungjawaban hukum petinggi First Travel.
Polisi telah menetapkan tiga tersangka, yaitu:

1. Andika Surachman
2. Anniesa Desvitasari Hasibuan
3. Kiki Hasibuan

Lewat jalur pidana ini, pihak yang terkait akan dibidik dengan dua pasal besar, yaitu:

1. Penipuan dan Penggelapan
Dengan delik penipuan dan penggelapan, akan terungkap apakah benar ada niat jahat dan perbuatan jahat yang dilakukan para terdakwa. Ancaman maksimal kejahatan penipuan selama 4 tahun penjara sedangkan ancaman maksimal kejahatan penggelapan selama 4 tahun penjara.

Bila ada 1.000 orang yang tertipu, maka tidak menutup kemungkinan pelaku akan diadili berkali-kali hingga dibui berpuluh-puluh tahun.

Skenario Besar Selamatkan Rp 550 Miliar Jemaah First Travel

2. Pencucian Uang
Setelah terbukti ada niat jahat dan pebuatan jahat, maka pelaku akan dikenakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Berikut kelebihan dan kekurangan menggunakan TPPU:

Hukuman maksimal: 20 Tahun penjara
Target: Mengejar larinya uang jemaah.
Teknis penelusuran: Menyita aset dan menelusuri rekening.
Kendala: Memakan waktu lama dan jumlah tersangka bisa bertambah.
Kelebihan: Titik terang kemungkinan larinya dana jemaah bisa diketahui. Kemungkinan uang jemaah kembali tergantung kemampuan penyidik.

Jalur Perdata
Selain pidana, jalur perdata juga ditempuh calon jemaah First Travel. Dua jalur yang akan dipakai yaitu:

1. Gugatan Perbuatan Melawan Hukum
Kekurangan:
– Memakan waktu lama, setidaknya butuh waktu 3 tahun hingga berkuatan hukum tetap.
– Permohonan sita jaminan susah dikabulkan karena asat First Travel sudah disita untuk kasus pidana.
– Bila menang, tergugat (pihak First Travel) akan membayar dengan apa?

Kelebihan:
Memberikan kepastian bagi orang per orang

“Itu cuma mendukung penyidik untuk menghimpun jumlah korban. Para calon jamaah kan ingin uangnya kembali, jadi kami gugat perdata saja,” kata kuasa hukum Serka Pina, Dony E Baharudin. Serka Pina merupakan salah satu korban First Travel.

Skenario Besar Selamatkan Rp 550 Miliar Jemaah First Travel

2. Gugatan Pailit
Kelebihan:
-Lebih cepat.
-Aset bisa dihitung dengan cepat.

Kekurangan:
-Jumlah kreditur tidak terdeteksi.
– Uang calon jemaah/kreditur tidak bisa kembali 100 persen.
– Banyak aset First Travel bukan atas nama sendiri, seperti mobil mewah atas nama leasing. Rumah mewah Andika-Anniesa pun sudah dijadikan agunan utang sebesar Rp 80 miliar.

“Kalau di UU Kepailitan, Jaksa Agung bisa mempailitkan satu perusahaan demi kepentingan umum. Nantinya akan ada kurator yang ditunjuk Jaksa Agung dan ditetapkan pengadilan untuk mengurus harta pailit dan selanjutnya berapa yang terkumpul akan diverifikasi dan dibagikan secara rata ke calon jemaah. Jaksa Agung juga bisa berkoordinasi dengan kepolisian agar aset-aset yang sita dimaukan ke mana harta pailit,” kata mantan anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) David Tobing.

Non Litigasi
Selain jalur litigasi, jalur nonlitigasi juga ditempuh. Jalur ini dipakai bukan untuk mengembalikan uang sepenuhnya, tetapi mencegah agar kasus serupa tak terulang sehingga tidak timbul korban baru.

Skenario Besar Selamatkan Rp 550 Miliar Jemaah First Travel

1. DPR
Meminta DPR menekan pemerintah agar menertibkan travel sejenis.
2. Pemerintah
– Meminta Kementerian Agama bergerak cepat mendata travel yang tidak sehat dan memberikan sanksi serta menertibkan travel umroh.
– Meminta Kementerian Agama membuat regulasi yang lebih ketat, agar masyarakat aman dalam mengikuti proses ibadah umrah.
3. Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Meminta OJK memantau modus serupa dan melakukan tindakan preventif.

Skenario Besar Selamatkan Rp 550 Miliar Jemaah First Travel

Lantas, dengan skenario besar di atas, apakah uang setengah triliun rupiah calon jemaah umrah akan kembali? Berikut data keuangan/aset First Travel yang terlacak:

1. Rumah mewah Andika-Aniiesa diagunkan dengan nilai utang Rp 80 miliar.
2. First Travel memiliki utang ke hotel di Arab Saudi sebesar Rp 24 miliar.
3. Enam mobil bos First Travel masih atas nama leasing. Mobil itu dari Vellfire, VW Caravelle hingga Toyota Avanza.
4. Butik Anniesa belum ditelusuri nilainya.

Sudah lebih dari 1.300 orang yang tercatat melapor ke crisis center First Travel Bareskrim Mabes Polri. Mereka yang melapor diri ke Bareskrim berharap uang mereka kembali atau bisa diberangkatkan umroh.

Salah satu perwakilan jemaah, Serka Pina Martina tidak jadi melaporkan diri ke crisis center Bareskrim. Melalui pengacaranya, Korps Wanita AD (Kowad) itu berencana menggugat pemilik First Travel dengan gugatan perdata.

“Itu cuma mendukung penyidik untuk menghimpun jumlah korban. Para calon jamaah kan ingin uangnya kembali, jadi kami gugat perdata saja,” kata kuasa hukum Serka Pina, Dony E Baharudin saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Senin (21/8/2017).

Dony tidak mempermasalahkan soal lamanya proses hukum jika dia dan kliennya membuat gugatan perdata. Sebab polisi sudah menyita seluruh aset kepunyaan pemilik First Travel.

“Ya nggak masalah, kita adu cepat saja minta sita duluan. Ya minimal kita bisa sitain asetnya,” kata Dony.

Dony menganggap laporan tersebut penting untuk proses penyidikan, namun bagi kliennya sia-sia. Menurutnya jemaah pada intinya meminta uangnya kembali.

“Bagi kita sia-sia, bagi penyidik penting karena untuk mengetahui berapa jumlah korbannya, ini cuma mendukung yang disangkakan penyidik. Kita sendiri pinginnya uang kembali, paling nggak berangkat lah,” ujarnya.

Serka Pina telah melunasi pembayaran pada Desember 2015 dan dijadwalkan berangkat pada Mei 2017. Namun jadwal hanyalah jadwal, sampai bos First Travel jadi tersangka dan dirinya masih tak kunjung diberangkatkan.