Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

15 Ribu Komunitas Sepeda Tua, Gowes dari Titik Nol Anyer-Panarukan

081259100_1522024919-IMG20180324073759PT RIFAN FINANCIDO BERJANGKA – Sebanyak 200 orang dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) menggowes sepeda onthel dari titik nol kilometer Jalan Anyer-Panarukan, di Mercusuar Anyer, Kabupaten Serang, Banten, menuju Bali.

Mereka akan mengikuti kongres tahunan Internasional Veteran Cycle Association (IVCA) di Bali pada tanggal 12-16 April 2018 mendatang.

“Ada 10 tim inti, pendampingnya 200 secara estafet. Ada sekitar 24 club di Banten,” kata Joko Rinto Pihartono, Ketua Umum (Ketum) Kosti, usai pelepasan peserta gowes IVCA di Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (24/03/2018).

Mereka akan menjemput teman-temannya di 20 kabupaten dan kota di sepanjang Pulau Jawa dengan menggowes sepeda tuanya sejauh 1.500 kilometer (km).

Pada Minggu, 25 Maret 2018, mereka akan disambut dan kemudian dilepas kembali oleh Panglima TNI dan Kapolri.

“Paling banyak penyambutan dari Kapolri di Museum Trunojoyo, yang akan dilepas oleh Kapolri dan Panglima TNI,” terangnya.

Pesepeda tua ini ditargetkan sampai di Pulau Dewata pada tanggal 10 April 2018. Mereka akan bergabung bersama 50 negara sahabat lainnya yang tergabung dalam IVCA. Seperti Belanda, Australia, Canada, Denmark, inggirs, Italia, Jepang, Swiss, Argentina, Malaysia, Thailand, dan China yang akan mengikuti kongres IVCA dengan 15 ribu peserta.

“Indonesia mengirimkan 14.653 peserta. (Negara sahabat mengirim) 293 peserta,” jelasnya.

Organisasi Sepeda Tua Terbesar

IVCA merupakan organisasi sepeda tua terbesar di dunia, berdiri 26 Mei 1986 di kota Lincoln, Inggris oleh Veteran Cycling Club (V-CC). Telah menghimpun 50 negara di seluruh dunia. Setiap tahun secara bergantian anggotanya melaksanakan kejuaraan rally dunia.

Kongres IVCA festival sudah 35 kali gelar perhelatan. Dalam lima tahun terakhir berlangsung di, 2011 di La Ferte-Perancis, 2012 di Gent-Belgia, 2013 Veseli nad Moravou-Czech Republic, 2014 Tzizake-Hungaria, 2015 Swedia, 2016 Moskow-Rusia, 2017 di KarIsruhe-Jerman, dan tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah nya, sekaligus penyelenggaraan pertama kali di negara Asia.

Alasan dipilih start awal di titik nol kilometer jalan Anyer-Panarukan, karena jalan yang dibangun oleh Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811 itu, memiliki catatan sejarah panjang bagi Bangsa Indonesia.

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Britania.

Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat membuat jalan, yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh.

Dengan tangan besinya, jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja. Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Di jalan sepanjang 1000km itu, setiap 4,5km dibangun Pos, sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels membutuhkan armada militer yang kuat dan tangguh.

Daendels membentuk pasukan yang berasal dari masyarakat pribumi. Daendels kemudian mendirikan pendidikan militer di Batavia, dan tempat pembuatan atau pabrik senjata di Semarang.

Dalam waktu relatif singat itu, dengan tangan besinya berhasil membangun di berbagai bidang, baik untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan. Karena ditugaskan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Kendati menyebut proyek Jalan Anyer-Panarukan sebagai genosida karena menelan ribuan korban, sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengakui, dibandingkan pada masanya, jalan itu sama dengan jalan Amsterdam–Paris.

Pembangunannya yang hanya setahun (1808-1809) satu rekor dunia pada masanya. “Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya,” tulis Pram dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

Sumber: liputan6.com